- Bab 4 dari 6
- 35 menit
- 1 latihan kode
- 4 soal kuis
Workflow, Studi Kasus, dan Kebiasaan Efektif
Di bab ini (7 bagian)
Tujuan bab ini
- Menerapkan workflow tujuh langkah dari ide sampai rilis.
- Membaca studi kasus dan menemukan pola kerja yang efektif, termasuk cara membaca bug hasil AI.
- Mempraktikkan delapan kebiasaan vibe coder yang efektif.
- Menentukan kapan vibe coding cocok dan kapan perlu review ketat.
Workflow tujuh langkah
Siklus di bab sebelumnya adalah putaran kecil. Untuk membawa ide sampai rilis, putaran-putaran itu ditempatkan dalam workflow yang lebih besar:
| Langkah | Apa yang dilakukan |
|---|---|
| 1. Ide dan tujuan | Siapa penggunanya, masalah apa yang diselesaikan |
| 2. Spesifikasi singkat | PRD mini: fitur inti, layar, data |
| 3. Scaffold proyek | Minta AI membuat kerangka dan struktur |
| 4. Bangun per fitur | Satu fitur kecil per putaran |
| 5. Uji dan periksa | Coba manual, minta AI menulis tes |
| 6. Commit ke Git | Simpan titik aman setiap fitur jadi |
| 7. Deploy dan pantau | Rilis, kumpulkan masukan, ulangi |
Dua langkah paling sering diremehkan. Langkah 2 (spesifikasi singkat) sering dilewati, padahal paling menghemat waktu. Spesifikasi setengah halaman berisi fitur inti, daftar layar, dan bentuk data membuat setiap prompt berikutnya punya konteks yang sama. Langkah 6 (commit) adalah jaring pengamanmu.
Aturan emas: Git adalah tombol undo
AI kadang merusak sesuatu yang tadinya berfungsi, misalnya saat diminta menambah fitur baru ia ikut mengubah file lain. Kalau kamu commit setiap kali sesuatu berfungsi, kamu cukup kembali ke titik aman:
Titik aman membuatmu berani bereksperimen, karena kesalahan apa pun hanya berjarak satu perintah dari pemulihan.
Studi kasus: aplikasi daftar belanja
Berikut alur percakapan ilustrasi saat membuat aplikasi daftar belanja:
- Prompt awal: "Buat aplikasi web daftar belanja: tambah, hapus, dan kelompokkan barang per kategori. Pakai React dan Tailwind."
- AI: membuat proyek (komponen, gaya, data contoh) dan memberi tahu perintah dev untuk melihat hasilnya.
- Kamu: "Saat item dihapus, muncul error ini: TypeError: ... undefined. Tolong perbaiki."
- AI: "Penyebabnya ID ganda saat menambah item. Sudah saya perbaiki dan tambahkan tes."
- Kamu: "Bagus. Tambahkan mode gelap dan siapkan untuk deploy."
Hasil sesi ilustrasi ini: 5 prompt utama, sekitar 30 menit dari nol sampai online, dan 0 baris kode diketik manual. Angka ini contoh tipikal, bukan hasil riset. Yang lebih penting adalah polanya: prompt awal jelas, error ditempel apa adanya, lalu peningkatan dilakukan bertahap.
Membedah bug "ID ganda"
Bug di langkah 3 sangat khas kode AI, jadi mari kita bedah. Misalkan AI menulis fungsi ini:
Coba jalankan di kepalamu. Daftar berisi item id 1 dan 2. Item id 1 dihapus, sehingga tersisa satu item dengan id 2. Lalu kamu menambah item baru: daftar.length + 1 bernilai 2. Sekarang ada dua item dengan id 2. Saat kamu menghapus berdasarkan id, kode bisa menghapus item yang salah atau mencari item yang sudah tidak ada, lalu muncul TypeError: ... undefined.
Kodenya terlihat masuk akal dan lolos uji normal, karena bug baru muncul setelah urutan "hapus lalu tambah". Inilah alasan kebiasaan "minta tes": tes yang mencoba urutan tersebut akan langsung menangkap bug ini. Perbaikannya, id baru diambil dari id terbesar yang ada, bukan dari panjang daftar. Kamu akan mempraktikkan perbaikan ini di latihan bab ini.
Delapan kebiasaan vibe coder yang efektif
| Kebiasaan | Mengapa penting |
|---|---|
| Mulai dari spesifikasi | Tujuan dan fitur inti ditulis sebelum prompt pertama |
| Langkah kecil | Satu fitur per prompt lebih mudah diuji dan diperbaiki |
| Berikan konteks kaya | Sertakan file terkait, dokumentasi, dan contoh |
| Sering commit | Titik aman membuatmu berani bereksperimen |
| Minta tes | Minta AI menulis tes dan menjelaskan perubahannya |
| Tempel error lengkap | Pesan error utuh lebih berguna daripada "tidak jalan" |
| Mulai sesi baru | Jika AI berputar-putar, reset konteks dan ringkas ulang |
| Minta keamanan | Sebutkan validasi input, otentikasi, dan rahasia |
Dua kebiasaan yang paling sering dilupakan adalah commit Git dan memulai sesi baru ketika konteks sudah terlalu panjang. Tanda AI mulai berputar-putar: ia memperbaiki bug A lalu memunculkan bug B, lalu memperbaiki B dan memunculkan A lagi. Saat itu, berhenti. Kembalikan kode ke commit terakhir yang baik, buka sesi baru, dan tulis ringkasan singkat: proyeknya apa, apa yang sudah berfungsi, dan satu masalah yang ingin diselesaikan.
Contoh menempel error dengan baik
Bandingkan dua pesan ini:
Pesan kuat memuat langkah untuk memunculkan bug, error utuh dengan lokasinya, dan perilaku yang diharapkan. AI bisa langsung menuju penyebabnya tanpa menebak.
Kapan vibe coding cocok
| Cocok untuk | Hati-hati, perlu review ketat |
|---|---|
| Prototipe dan MVP untuk menguji ide | Sistem keuangan, kesehatan, atau infrastruktur kritis |
| Tools internal dan otomasi kecil | Aplikasi yang menyimpan data pribadi pengguna |
| Proyek akhir pekan dan eksperimen | Produk skala besar yang dirawat bertahun-tahun |
| Belajar konsep dan teknologi baru | Kode keamanan tanpa review manusia |
| Mockup interaktif untuk presentasi | Sistem dengan kewajiban kepatuhan regulasi |
Polanya: vibe coding paling bernilai saat kode bersifat sementara, ruang lingkupnya sempit, atau polanya sudah umum. Untuk sistem kritis, gunakan pendekatan agentic engineering dengan review, tes, dan audit keamanan. Contohnya, kalkulator patungan untuk acara kelas boleh dibuat dengan vibe coding murni. Aplikasi koperasi sekolah yang menyimpan saldo dan data siswa butuh review dan tes yang serius.
Kesalahan umum
- Melewati spesifikasi lalu menghabiskan banyak putaran untuk menjelaskan ulang hal yang sama.
- Tidak commit sampai AI merusak beberapa fitur sekaligus dan tidak ada titik aman.
- Bertahan di sesi yang berputar-putar padahal memulai sesi baru jauh lebih cepat.
- Hanya menguji jalur normal, sehingga bug seperti ID ganda lolos sampai pengguna menemukannya.
Rangkuman
- Workflow tujuh langkah: ide, spesifikasi, scaffold, bangun per fitur, uji, commit, deploy dan pantau.
- Git adalah tombol undo: commit setiap kali sesuatu berfungsi.
- Bug khas kode AI sering lolos uji normal dan baru muncul pada urutan tertentu, jadi minta dan tulis tes.
- Delapan kebiasaan efektif mencakup spesifikasi, langkah kecil, konteks kaya, commit, tes, error lengkap, sesi baru, dan keamanan.
- Vibe coding cocok untuk prototipe dan eksperimen, tetapi sistem kritis dan data pribadi perlu review ketat.
Slide 15 sampai 19 dari deck Vibe Coding: Membangun Software Bersama AI dengan Aman. Penjelasan lengkapnya ada di mode Baca.

Selesaikan bab ini
- 1. Baca materi
- 2. Latihan kode (1)
- 3. Kuis (4 soal)
Latihan kode: Perbaiki bug ID ganda buatan AI
Ini kode AI dari studi kasus daftar belanja. Setelah barang dihapus lalu barang baru ditambah, muncul dua barang dengan id yang sama, dan menghapus satu barang ikut menghapus barang lain.
Perbaiki tambahItem supaya:
- id baru selalu unik: ambil id terbesar yang ada lalu tambah 1 (daftar kosong berarti id 1);
- nama dipangkas spasinya, dan nama kosong atau hanya spasi tidak ditambahkan (kembalikan daftar apa adanya);
- array asli tidak diubah.
hapusItem sudah benar, jangan diubah.
Cek pemahaman
1Langkah workflow mana yang sering dilewati padahal paling menghemat waktu?
2Apa masalah fungsi ini setelah barang dihapus lalu barang baru ditambah?
function tambahItem(daftar, nama) { const id = daftar.length + 1; return [...daftar, { id, nama }]; }3Saat AI mulai berputar-putar memperbaiki bug yang sama, memulai sesi baru dengan ringkasan singkat adalah langkah yang disarankan.
4Proyek mana yang paling cocok dikerjakan dengan vibe coding murni?